Langkah Ponpes Tebuireng Harmoniskan Pendukung Jokowi dan prabowo

Kabar24

Pondok Pesantren Tebuireng, pertemukan pendukung capres 01 dan 02 dari kalangan ulama, cendekiawan, dan kiai.

Menjelang pemilihan umum pada 17 April 2019 nanti, situasi politik Indonesia kian memanas. Sering kita jumpai, baik di media masa (cetak maupun online) ataupun di media sosial masing-masing pendukung calon presiden (capres) saling serang. Keduanya kerap kali melontarkan berbagai opini tentang siapa yang paling pantas dalam memimpin negeri Indonesia selama lima tahun kedepan.

Untuk meredam situasi tersebut, Pondok Pesantren Tebuireng mengadakan halaqoh kebangsaan, Ahad (7/4/2019) dan mengundang masing-masing pendukung setiap calon presiden.

Mereka yang hadir dalam halaqoh kebangsaan teresebut baik pendukung Jokowi ataupun Prabowo berasal dari kalangan ulama, cendekiawan dan juga kiai. Dalam acara tersebut, mereka terlihat harmonis. Tidak ada ketegangan yang terjadi diantara pendukung yang hadir. Bahkan mereka cenderung tidak memperlihatkan keberpihakanya dihadapan khalayak.

Dalam acara tersebut, mereka yang hadir pun tak terlihat mengenakan atribut khusus. Seperti diwartakan republika.co.id, masing-masing pendukung pasangan calon presiden 01 dan 02 terlihat mengenakan pakaian muslim pada umumnya, seperti koko warna putih, ataupun baju dengan warna lain, ada juga yang mengenakan sarung, kopiah, dan juga celana kain. Keduanya tampak harmonis, saling sapa, berjabat tangan, dan berbicara satu sama lain.

Suasana Halaqah Kebangsaan di Ponpes Tebuireng Jombang( Faktualnews.co )

Saat kegiatan berlangsung, pendukung kedua pasangan calon presiden pun tidak menunjukkan pertentangan. Mereka menikmati setiap proses acara, sesekali tertawa tatkala menemukan perihal yang lucu dalam pembicaraan.

Pengasuh Pondok pesantren (Ponpes) Tebuireng, KH Salahuddin Wahid mengatakan, ia sengaja mengajak sejumlah ulama, kiai dan juga cendekiawan untuk menyatukan kembali hubungan dalam Halaqah Kebangsaan di Jombang.

KH Salahudin Wahid mengungkapkan, awal mula diselenggarakannya kegiatan Halaqah Kebangsaan ini merupakan ide dari Kiai Mahfudz sobari dari mojokerto. Ia mengajak dirinya untuk mengundang para ulama dan juga kiai yang menjadi pendukung capres 01 dan 02.

Gus Solah (sapaan akrab KH Salahuddin Wahid) mengatakan, para pendukung ini, bisa saja telah melakukan komunikasi dengan begitu semangat, dan mungkin juga telah melakukan hal yang tidak cocok dalam memenangkan capres yang dipilihnya.

Oleh sebab itu, Gus Solah melalui Halaqah Kebangsaan mencoba kembali merekatkan tali silaturahmi yang merenggang tersebut.

“renggang tidak sampai pecah ya, kita ingin merekatkan kembali, terutama selesai pilpres 2019,” kata Gus Solah.

Gus Solah menambahkan, pada hakikatnya, Allah SWT sudah menentukan presiden yang akan memimpin Indonesia 5 tahun kedepan, akan tetapi, seluruh masyarakat, terutama umat Islam belum mengetahui siapa yang akan terpilih dari kedua pasangan calon tersebut. Gus Solah juga berharap, seluruh umat dapat menerima segala ketentuan yang telah ditetapkan Allah SWT.

Dipertemuan selanjutnya, hubungan para kiai diharapkan dapat lebih dieratkan lagi, persatuan umat, akan sangat bergantung pada keberadaan islam, begitupula dengan islam yang sangat bergantung pada hubungan antara tokoh agama. “Terutama di Jawa Timur yang sempat renggang,” terangnya.