Proyek Logam Tanah Jarang Berbasis Monasit, Riset MIND ID dan Kemendiktisaintek Tuntas

PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menuntaskan riset pengembangan mineral kritis melalui pemanfaatan limbah timah menjadi logam tanah jarang.

Riset itu memusatkan perhatian pada monasit, mineral ikutan timah yang kerap berada di sisa proses produksi, termasuk di kawasan peleburan timah di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung.

Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Faudzan Adziman, menjelaskan bahwa pengolahan limbah menjadi bahan bernilai tinggi adalah sasaran utama. Monasit dalam limbah timah dinilai memiliki kandungan yang dapat diolah kembali menjadi mineral strategis, mulai dari torium, uranium, hingga neodimium.

Arah kebijakan itu menegaskan bahwa hilirisasi tidak selalu harus bertumpu pada tambang baru, tetapi juga bisa dimulai dari pemanfaatan limbah yang selama ini kurang dimaksimalkan.

Proyek Logam Tanah Jarang: Neodimium Jadi Target Utama, Peluang EV Menguat?

Nilai ekonomi proyek ini berada pada kemampuan memurnikan unsur yang dibutuhkan industri teknologi. Neodimium, misalnya, dikenal sebagai material untuk magnet berkekuatan tinggi. Komponen ini menjadi elemen penting pada berbagai perangkat modern, termasuk aplikasi energi bersih.

Dalam konteks transisi energi, neodimium kerap dikaitkan dengan kebutuhan industri baterai kendaraan listrik dan ekosistem electric vehicle yang terus bertumbuh.

Bagi MIND ID, riset yang sudah tuntas membuka ruang ke tahapan berikutnya, yaitu menyiapkan model bisnis dan skema pengembangan yang layak secara komersial. Tantangan yang menunggu bukan hanya pada teknologi proses, tetapi juga standar keselamatan, tata kelola lingkungan, dan kepastian rantai pasok.

Keberhasilan proyek akan ditentukan oleh konsistensi riset lanjutan, kesiapan industri, serta kemampuan membangun ekosistem pengolahan dari hulu ke hilir.

Jika dikelola dengan disiplin, Proyek logam tanah jarang berbasis limbah timah berpeluang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok mineral kritis. Selain menambah nilai tambah domestik, pendekatan ini juga memberi pesan bahwa efisiensi sumber daya dapat berjalan beriringan dengan agenda hilirisasi dan industrialisasi.

Proyek logam tanah jarang yang digarap MIND ID bersama Kemendiktisaintek menegaskan arah hilirisasi berbasis limbah. Monasit dari limbah timah membuka peluang menghasilkan mineral strategis seperti neodimium untuk kebutuhan teknologi dan EV.

Demikian informasi seputar proyek logam tanah jarang. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Biserje.Com.