/Mengenang Kembali Kisah Chairul Huda, Penjaga Gawang Legendaris Persela Lamongan.

Mengenang Kembali Kisah Chairul Huda, Penjaga Gawang Legendaris Persela Lamongan.

Huda mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sebuah loyalitas

Sudah hampir dua tahun Chairul Huda pergi untuk selama lamanya dalam dunia persepak bolaan tanah air. Akan tetapi namanya tak akan pernah bisa dihilangkan  dari Persela Lamongan. Dalam hal sepak bola, ia layaknya Francesco Toti versi kiper, lantaran hanya membela satu Klub sepanjang Karirnya dalam dunia sepak bola. Nama Huda juga masuk dalam daftar 50 pesepak bola dunia yang hanya membela satu klub sepanjang hidupnya.

Pahit dan manis dirasakan Huda bersama persela di persebak bolaan Indonesia.

Ia mulai membela Persela, sejak tim berjuluk Laskar Joko Tingkir tersebut, berada di Divisi II, secara perlahan namun pasti, Huda turut membawa persela naik kasta, Mulai dari Divisi I, Divisi utama, hingga mengantarkan Persela promosi ke Indonesia Superleague pada 2007 silam.

Huda merupakan putra daerah, dan didikan otentik Persela. Bagi huda, Persela merupakan rumah keduanya. Selama berkarir di Persela, pria kelahiran 6 februari 1979 ini acap kali digoda oleh klub klub besar Indonesia agar huda mau bergabung dengan Tim mereka. Mulai dari Persib Bandung, Sriwijaya FC, hingga Persija Jakarta pernah merayu huda untuk meninggalkan Stadion Surajaya.

Disini Huda menunjukkan loyalitasnya, semua tawaran yang pernah ditujukan padanya selalu ia tolak, dan tetap mengabdikan dirinya untuk persela. Selama 17 tahun huda membersamai persela, dan tercatat 500 laga sudah dilakoninya bersama Laskar Joko Tingkir.

Atas pengabdianya bersama Persela, tahun 2008 silam, Pemerintah lamongan mengangkatnya sebagai Pegawi Negri Sipil (PNS).

Soal Prestasi dalam dunia sepak bola, Huda telah mengantarkan Persela menjadi juara selama lima kali dalam piala Gubernur Jawa Timur. Selain itu, Huda juga pernah membawa Persela Finish diurutan Ke empat dikompetisi ter-elite tanah air pada musim 2011-2012.

Ia juga pernah dipanggil oleh Alfred Riedl yang saat itu mengarsiteki Timnas Indonesia, dalam kualifikasi Piala Asia 2015 melawan Arab Saudi. Namun saat itu, Alfred Riedl tak pernah sekalipun memberikan kesempatan kepada Huda untuk bermain.

Semua pahit manis yang dirasakan Huda dalam dunia persepakbolaan Tanah air membuat perpisahan denganya begitu menyakitkan.

Masih terkenang dalam memori kita, saat itu, tatkala Chairul Huda berusaha menyelamatkan bola yang diarahkan pemain semen padang yang diarahkan ke kotak pinalti Persela pada babak pertama, ia mengalami benturan yang begitu keras dengan rekan setimnya Ramon Rodrigues. Paska benturan tersebut, Chaerul Huda  masih sadarkan diri, dan terlihat memegangi bagian pipinya. Tak berselang lama dari kejadian tersebut, huda tak sadarkan diri. Kemudian huda langsung dibawa Tim Medis menggunakan Ambulans Ke Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soegiri Lamongan.


Chairul Huda ( Bola.solopos.com )

Selama dirumah sakit, kondisi huda kritis. dan pada pukul 17.15 waktu setempat huda dinyatakan meninggal.

“Choirul Huda sudah diberikan pertolongan oleh pihak rumah sakit. Dia dinyatakan meninggal pada pukul 17.15.WIB”, terang staf Medis persela, Budi, Kepada wartawan.

Huda memberikan pelajaran pada kita semua tentang betapa pentingnya sebuah usaha dan loyalitas. Berkah dan Rekah ‘kehidupanmu’ disana Cak Hud.